Senin, 21 November 2016

  1. jARANAN TIDAK HANYA SEBATAS PENARI ‘DADI’

Artikel Kediri Bertutur
Jaranan dikenal sebagai seni rakyat yang digemari oleh masyarakat di Kediri. Para prajurit mempertunjukkan karakter keberanian lelaki mereka melalui gerak-gerik yang gagah. Kuda Lumping/Jaranan/Kuda Kepang adalah seni tari yang dimainkan dengan menaiki kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Para prajurit biasanya diiringi dengan musik khusus yang sederhana yaitu dengan gong, kenong, kendang dan slompret (alat musik tradisional). Kesenian Jaranan begitu sederhana akan tetapi memiliki daya tarik yang kuat.
Dahulu rakyat menggunakan panggung rakyat sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penguasa. Bentuk kesenian Kuda Kepang merupakan cara rakyat menyindir para penguasa. Kuda merupakan simbol kekuatan dan kekuasaan elit bangsawan dan prajurit kerajaan yang di saat itu tidak dimiliki rakyat. Tarian Kuda Lumping dipentaskan tanpa mengikuti pakem seni tari yang berkembang di lingkungan kerajaan. Jelas bahwa seni tari Jaranan adalah bentuk perlawanan terhadap kemapanan kerajaan. Dikarenakan seni Kuda Lumping sangat digemari oleh semua kalangan masyarakat maka selain sebagai media perlawanan, Tarian Jaranan digunakan sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam, sama halnya melalui kesenian Wayang Kulit.
391025_2630646639717_853517348_n
Asal usulnya Jaran Kepang terkandung dalam cerita rakyat asli Kediri saat pemerintahan Prabu Amiseno dibawah Kerajaan Ngurawan (salah satu kerajaan yang terletak di Kediri sebelah timur Sungai Brantas). Sang Prabu Amiseno memiliki putri yang sangat cantik nan rupawan bernama Dyah Ayu Songgolangit (Dewi Sekartaji). Banyak raja dari luar daerah Kediri yang ingin mempersuntingnya.
Dewi Songgolangit memiliki adik laki-laki tampan dan terampil dalam olah keprajuritan bernama Raden Tubagus Putut. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, Raden Tubagus Putut mohon pamit pada ayahandanya untuk berkelana dan menyamar sebagai masyarakat biasa. Pengembaraannya membawa Raden Tubagus Putut untuk mengabdi kepada Prabu Kelono Sewandono di Kerajaan Bantar Angin (Ponorogo). Berkat keahliannya dalam olah keprajuritan, maka ia diangkat menjadi patih kerajaan dan diberi gelar Patih Pujonggo Anom.
Prabu Kelono Sewandono mendengar tentang kecantikan Dyah Ayu Songgolangit dan ingin meminangnya, maka diutuslah Patih Pujonggo Anom untuk melamar ke Kediri. Sebelum berangkat ke Kediri Pujonggo Anom memohon petunjuk kepada Sang Dewata agar dirinya tidak diketahui siapa dirinya oleh ayahandanya maupun kakaknya.
Di kerajaan Ngurawan banyak pelamar yang berdatangan diantaranya Prabu Singo Barong dari Lodoyo yang didampingi patihnya Singakumbang (celeng). Dewi Songgolangit terkejut akan kedatangan Pujonggo Anom untuk melamar, karena meskipun dia memakai topeng untuk menyamar, Dewi Songgolangit mengetahui bahwa itu adiknya sendiri.
Dewi Songgolangit menghadap ayahandanya untuk menyampaikan bahwa Pujonggo Anom adalah putranya dan mendengar penuturan itu, maka murkalah sang ayah. Sang Prabu mengutuk Pujonggo Anom bahwa topengnya yang dikenakan wajahnya tidak bisa dilepas dari wajahnya. Pujonggo Anom mengatakan kepada Dewi Songgolangit bahwa lamarannya itu sebetulnya untuk rajanya yaitu Prabu Kelono Sewandono.
Akhirnya Dewi Songgolangit mengeluarkan suatu Patembaya (sayembara) yang isinya: dia menginginkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah; barang siapa yang dapat membuat tontonan yang belum ada di jagad ini, dan bilamana digelar dapat meramaikan jagad, serta pengarak manten menuju ke Kediri harus “nglandak sahandape bantala” (lewat bawah tanah) dengan diiringi tetabuhan. Barang siapa yang bisa memenuhi permintaan tersebut maka si pencipta berhak mempersunting Dewi Songgolangit sebagai permaisuri.
Pujonggo Anom melaporkan permintaan Dewi Songgolangit kepada Prabu Kelono Sewandono. Karena merasa cukup sulit, akhirnya keduanya bersemedi memohon petunjuk Sang Dewata Agung. Dewata memberikan bahan berupa batang bamboo, lempengan besi serta sebuah cambuk yang disebut Pecut Samandiman. Adapun batang bamboo digunakan untuk membuat kuda kepang yang melambangkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah, lempengan besi dijadikan tetabuhan yang enak didengar.
Dalam waktu singkat Kelono Sewandono beserta Pujonggo Anom sudah bisa memenuhi patembaya Dewi Songgolangit. Akhirnya pasukan prajurit penunggang kuda dari Bantar Angin (Ponorogo)  menuju Kerajaan Kediri dengan diiringi tetabuhan bisa menjadi tontonan yang belum pernah dilihat oleh masyarakat Kediri. Maka mulailah kesenian itu diberikan nama Tari Jaran Kepang yang terdiri dari empat orang penari yang menggambarkan punggawa kerajaan sedang menunggang kuda dengan tugas mengawal raja. Tarian tersebut diiringi oleh kelompok gamelan yang terdiri dari ketuk, kenong, kempol, gong suwukan, terompet, kendang dan angklung.
401168_2631173372885_423954744_n
Kemudian datanglah Barong Singo Barong bersama Patih Singakumbang dari Lodoyo yang datang tidak melalui jalan biasa melainkan melalui bawah tanah menuju Alun Alun Kediri.  Barong Singo Barong merasa kedahuluan oleh Prabu Kelono Sewandono, maka marahlah Singa Barong dan terjadilah perang. Singa Barong dan Singakumbang memiliki kekuatan gaib dimana mereka bisa merubah wujud menjadi binatang, Singa Barong menjadi singa dan Singakumbang menjadi celeng. Dalam keamarahannya, dalam bentuk singa dan celeng, Singa Barong dan Singakumbang beserta para pengikutnya menghancurkan segala sesuatu yang menghalang mereka.
397113_2629875980451_1122822844_n
Kelono Sewandono melawan mereka dengan pecut Samandiman, akan tetapi Pujonggo Anom ingat bahwa Singa Barong dan Singa kumbang senang mendengar suara gamelan, maka dimainkannya lagu gamelan. Singo Barong dan Singa kumbang menjadi tenang hingga mereka menari mengikuti alunan gamelan.
405127_2630438554515_1684064093_n
Singa Barong menjadi tunduk kepada Prabu Kelono Sewandono dan sanggup menjadi pelengkap dalam pertunjukkan jaranan yang digelar di Kerajaan Kediri. Dengan bergabungnya Singa Barong dan patihnya Singo Kumbang (celeng) maka genaplah penari jaranan berjumlah enam orang hingga sekarang ini.
Selain seperangkat gamelan, pagelaran jaranan membutuhkan sesaji yang harus disediakan dari sang dalang jaranan yang disebut “gambuh:” antara lain Dupa (kemenyan yang dicampur minyak wangi tertentu kemudian dibakar), Buceng (berisi ayam panggang jantan dan beberapa jajan pasar, satu buah kelapa dan satu sisir pisang raja), Kembang Boreh (berisi kembang kanthil dan kembang kenongo), Ulung-ulung (berupa seekor ayam jantan yang sehat), Kinangan (berupa satu unit gambir, suruh, tembakau, dan kapur yang dilumatkan menjadi satu diadu dengan tembakau). Selanjutnya sang gambuh akan membaca mantera sambil duduk bersila di depan sesaji mencoba untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dan meminta agar menyusup ke raga salah satu penari jaranan. Setelah roh yang dikehendaki oleh Sang Gambuh itu hadir dan menyusup ke raga salah satu penari, maka penari itu bisa menari dibawah alam sadar hingga berjam-jam lamanya karena mengikuti kehendak roh yang menyusupinya. Sambil menari, jaranan diberi makan kembang dan minum air dicampur dengan bekatul bahkan ada yang makan pecahan kaca semprong.
407533_2630485515689_1889845343_n
Terkadang tindakan kemasukan roh ke dalam raga ini dinilai sebagai sesuatu yang kurang baik atau kurang dipahami. Tanpa adanya pehaman konteks budaya, maka seni tari Jaranan sering disalahpahami. Saat pengaruh agama Hindu dan Buddha masih kental di jaman kerajaan Jawa, kedekatan diri dengan roh leluhur adalah bentuk harmonisasi dan sinergi antara perilaku manusia dengan kearifan alam semesta.
383642_2631175012926_456908227_n
Wujud laku spiritual dalam tataran batiniah, dan laku ritual dalam tataran lahiriah menentukan kualitas manusia. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Contoh yang baik adalah adanya pemberian sesaji yang memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang benar, baik dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah memayu hayuning bawana(mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia).
378547_2631175972950_1716243457_n
Kebanyakkan seni tari rakyat telah lepas dari makna sejarah dan kandungan norma dan nilai pesan. Yang diapresiasi hanyalah sebatas tampilan saja sehingga condong menilai tanpa pemahaman sejarah maupun kandungan budaya.   Jaranan/Jaran Kepang/Kuda Lumping merupakan seni rakyat yang memiliki nilai sejarah dan mengandung nilai ksatria dalam membela yang adil dan benar.
Narasumber:
Buku “Jaranan: The Horse Dance and Trance in East Java by Victoria M. Clara van Groenendael
Asal usul Prabu klono sewandono
Kota Ponorogo memang kaya budaya, kaya sejarah.. dari mulai  sejarah kesenian reyog, sejarah pemberontakan kiageng kutu, sejarah pertikaian antara ki ageng Honggolono dan ki Ageng Mirah, dan masih banyak yang lain yang pastinya akan tetep dibahas dikemudian hari diblog situs kebudayaan dan kesenian reyog ponorogo ini.
menengok sekilas tentang kotareyog ponorogo, tidak lengkap rasanya bila tidak mengetahui siapakah sang penguasa bumi yang diklaim sebagai pusatnya dan asalnya kesenian reyog ponorogo, diciptakan. yaa.. dialah Raja Klono Sewandhono.
Sejarah Singkat Prabu Klono Sewandhono :
1. Pertapaan Gunung Lawu
Ki Andjar Lawu menpunyai 2 (dua) orang murid yang bernama Klono Sewandono dan Pujonggo Anom. Setelah dibina sekian tahun lamanya mereka dinyatakan lulus dan mendapatkan kesaktian yaitu :
– Prabu Klono Sewandono : Pecut (Cemeti) Samandiman
– Pujonggo Anom : Ajian Welut Putih dan Topeng Sakti2. Kerajaan Bantarangin
Setelah dari Gunung Lawu Klono Sewandono melanjutkan perjalanan dan mendirikan Kerajaan Bantarangin dengan gelar Sang Prabu Sri Kelono Sewandono. Kemudian Pujonggo Anom diangkat sebagai Patihnya. Adapun bala tentara Kerajaan Bantarangin adalah Pasukan Kolor Sakti (Warok) dan Prajurit Berkuda (Jatilan).3. Alas(Hutan) Ludoyo
Alas Lodoyo dengan Penguasanya Sang Singo Barong yang berwujud kepalanya harimau badannya manusia. Penguasa sakti yang sangat buas, mempunyai pasukan bala tentara jin, setan dan seluruh binatang.penghuni hutan (alas roban). Sang Singo Barong ini mempunyai ajian sakti yaitu Ajian Macan putih, dan juga mempunyai hewan kesayangan yaitu Burung Merak yang mempunyai tugas membersihkan kutu-kutu yang ada di kepalanya.4. Kerajaan Kediri
Raja Kediri mengadakan sayembara untuk peminangan putrinya yang bernama Dyah Ayu Songgolangit, adapun putrinya ingin dipersunting oleh para pelamar manapun dengan persyaratan :
1. Dibuatkan terowongan bawah tanah dalam waktu semalam.
2. Menginginkan binatang dengan bentuk satu badan dua kepala.
3. Menciptakan kesenian yang belum ada di tanah jawa sebagai iring-iringnan pernikahannya.5. Pelamaran Raja Bantarangin
Prabu Sri Klono Sewandono menyanggupi persyaratan tersebut, kemudian untuk syarat pertama sudah dipenuhi melalui kesaktian Patih Pujonggo Anom (Ajian Welut Putih) membuat terowong dalam waktu semalam.
Setelah persyaratan pertama terpenuhi kemudian Patih Pujonggo Anom membawa iring-iringan pasukan Bantarangin yang terdiri dari 144 prajurit berkuda dan pasukan kolor sakti (warok) menuju Kerajaan Kediri melalui hutan belantara, akan tetapi pasukan tersebut di hadang oleh Sang Singo Barong dan terjadilah pertempuran yang dimenangkan Sang Singo Barong. Kemudian Patih Pujonggo Anom melaporkan kejadian tersebut kepada Prabu Sri Kelono Sewandono, marah besar sudah Raja Bantarangin tersebut-langsung saja dia maju dimedan laga seorang diri menghadapi Raja Singo Barong. Adu kesaktianpun terjadi, dengan Pecut (Cemeti) Samandiman luluh lantah sudah Raja Singo Barong dan mengakui kekalahannya dengan berjanji bahwa sampai anak cucunya dia akan mengabdi kepada Raja Bantarangin tersebut.
Dengan kekalahan Raja Singo Barong tersebut telah terpenuhi syarat kedua, yaitu binatang satu badan dua kepala (harimau & merak).
Selanjutnya syarat ketiga dipenuhi dengan menggambungkan berbagai alat musik gamelan yang ada di tanah Bantarangin seperti : Gong Beri, Kenong, Selompret (Terompet), dan lain-lain. Pada awalny gamelan tersebut merupakan alat sandi untuk kepentingan rakyat, seperti Gong Beri dan Kenong/kempul, merupakan alat memanggil penduduk sebagai tanda pengumuman dari Raja dan Terompet (selompret) sebagai tanda penghormatan kepada Raja. Adapun Singo Barong dan Binatang kesayangannya (Burung Merak) – Satu Badan Dua Kepala, melengkapi serah-serahan Kerajaan Bantarangin. Inilah asal muasal terjadinya KESENIAN REYOG PONOROGOhttps://reyogponorogo.wordpress.com/2012/09/25/klono-sewandhana-raja-kerajaan-bhantarangin/.Prabu klono sewandhono
Cara pembuatan kuda kepang:langkah pertama adalah penganyaman kuda lumping
yang berbahan dasar bambu. Diteruskan dengan penyempurnaan bentuk, yaitu pembuatan lubang untuk membentuk leher dan mulut kuda lumping.

Proses selanjutnya adalah pemberian bingkai atau wengku,dan penutusan yaiti mengahit bingkai dengan anyaman supaya bersatu dengan kokoh.
Selesailah proses penganyaman kuda lumping, proses selanjutnya adalah pengecatan, yang terdiri dari proses pengecatan dasar dan melukis kuda lumping agar lebih hidup.  Gambar di bawah tampaklah anyaman yang sudah dilukis sedemikian rupa meniru kuda tunggangan pasukan kerajaan.

Dan sebagai langkah akhir adalah pemberian rambut dan ekor kuda yang menggunakan bahan ijuk, dan pemberian aksesoris lain seperti kain, manik-manik atau jali, dan kain merah putih yang dipasang pada http://pesonaperkasa.blogspot.co.id/2013/05/perajin-kuda-lumping.html kepala dari kuda lumping.
Add caption

Senin, 14 November 2016

  1. Pengertian Jatilan.Hasil gambar untuk sejarah jathilan
         Jathilan adalah kesenian yang telah lama dikenal oleh Masyarakat Yogyakarta dan juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang, ataupun jaran kepang. Tersemat kata “kuda” karena kesenian yang merupakan perpaduan antara seni tari dengan magis ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang).
Dilihat dari asal katanya, jathilan berasal dari kalimat berbahasa Jawa “jaranne jan thil-thilan tenan,” yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa indonesia menjadi “kudanya benar-benar joget tak beraturan ”.  Joget beraturan (thil-thilan) ini memang bisa dilihat pada kesenian jathulan utamanya ketika para penari telah kerasukan.
  1. Sejarah Jatilan
Kesenian tari jathilan dahulu kala sering dipentaskan pada dusun-dusun kecil.  Pementasan ini memiliki dua tujuan, yang pertama yaitu sebagai sarana menghibur rakyat sekitar, dan yang kedua juga dimanfaatkan sebagai media guna membangkitkan semangat rakyat dalam melawan penjajah.
Ada beberapa cerita awal sejarah mengenai jatilan. Versi pertama menceritakan jatilan adalah kesenian yang mengisahkan perjuangan Raden Patah dibantu Sunan Kalijaga dalam melawan penjajahan Belanda. Sebagaimana yang kita ketahui, Sunan Kalijaga adalah sosok yang acap menggunakan budaya, tradisi dan kesenian sebagai sarana pendekatan kepada rakyat, maka cerita perjuangan dari Raden Patah itu digambarkan kedalam bentuk seni tari jathilan.
Versi terahkir adalah jatilan merupakan cerita  Panji Asmarabangun, yaitu putra dari kerajaan Jenggala Manik. Tatkala yang disampaikan adalah cerita mengenai Panji Asmarabangun, maka penampilan para penaripun menggambarkan tokoh tersebut, baik aksesoris pun gerakannya.   Sebagai contoh aksesorisnya adalah mengenakan gelang tangan, gelang kaki, ikat pada lengan, kalung, menyengkelit keris, dan tentu saja mengenakan mahkota yang acap disebut “kupluk Panji.
sumber:https://borosucijathilan.wordpress.com/2015/06/07/jatilan-pengertian-sejarah-gerak-tari-jatilan-dan-jatilan-era-modern/